Ubah Candi
Pengkinian Arsitektur Nusantara
Candi bukan hanya karya arsitektur di Jawa Timur sebelum abad 16; candi juga menjadi salah satu ikon Jawa Timur. Lihat saja lambang dari Kodam Brawijaya maupun Dinas Pariwisata Jawa Timur. Candi-candi yang masih mampu tegar berdiri di Jawa Timur di hari ini memang sebagian terbesar adalah bangunan yang sakral nilainya, dan karena itu ada yang di hari ini dikeramatkan, ada pula yang ‘disucikan’.
Di masa sekarang candi-candi sudah tidak lagi memiliki peran dan kegunaan sebagaimana di jaman candi itu dibangun; candi-candi itu telah mengalami perubahan peran dan kegunaan. Peran dan kegunaan masa kini yang paling menonjol adalah sebagai obyek wisata serta sebagai tinggalan purbakala (monumen kebudayaan). Oleh karena itu, meski sebuah candi itu asalnya adalah makam, dan oleh karena itu candi menjadi tempat yang dihormati dan disakralkan; akan tetapi, di masa kini dia sudah menjadi obyek kunjungan atau tontonan yang dikagumi dan yang mempesona. Sekarang ini, kunjungan ke candi tidak lagi seperti berkunjung ke makam dengan suasana kesakralan atau kemistikannya. Tidak itu saja, kini candi juga menjadi ikon yang mengidentitaskan sesuatu (misal, mengidentitaskan Kodam Brawijaya atau Dinas Pariwisata Jawa Timur).
Candi sebagai benda tidak mengalami perubahan dari jaman pembangunannya, bahkan kalau candi mengalami kerusakan akan diupayakan dapat dikembalikan sebagaimana aslinya. Keakraban kita terhadap candi ini lalu membentuk kenangan dan ingatan dalam diri kita. Meskipun tidak mengatakan candi Jawa Timur manakah yang dimaksud, pikiran dan kenangan kita akan langsung menghadirkan sesosok gambar bangunan yang meramping ke atas, dengan sosok bayangan yang membentuk pinggiran bangunan candi yang berbelak-belok; berwarna abu-abu atau merah bata; dan sejumlah ukiran hitam, seperti lambang Dinas pariwisata itu, kita masih dengan lagsung bisa mengatakan bahwa itu adalah candi. Jadi, ada sebuah jatidiri rupa candi yang sudah tertanam dalam ingatan dan kenangan kita. Tidaklah mengherankan bila kita berhadapan dengan bentukan yang mampu memperlihatkan kemiripan dengan sosok candi itu lalu membuat kita mengatakan bahwa bangunan itu mengingatkan kita pada candi. Lihat saja gerbang masuk yang di kompleks Jawa Timur Park, di Batu (perancang: biro d_pavillion). Warna yang dipakai pada bangunan ini samasekali tak menunjukkan tanda-tanda keserupaan dengan warna candi. Ukuran dan proporsi bangunan gerbang ini juga tidak lagi ramping sebagaimana umumnya candi Jawa Timur. Ukiran dan relief bahkan samasekali tak hadir di bangunan gerbang ini. Apalagi atap bangunannya, dibanding dengan candi bangunan gerbang ini samasekali tak memperlihatkan atap yang menjulang, bahkan lebih mengingatkan kita pada atap bangunan arsitektur Nusantara di Bali. Ringkas kata, demikian banyak perubahan yang telah dilakukan di bangunan ini jikalau dibandingkan dengan candi yang asli. Meskipun perubahan yang terjadi demikian banyak, akan tetapi sosok bangunan gerbang ini (baca : siluet bangunan) dengan tegas dan jelas membuat kita teringat dan terkenang pada candi. Dengan perubahan seperti itu, yakni perubahan berupa pendominasian sosok geometri candi serta pengkayaan warna, bangunan gerbang ini dapat dikatakan sebagai karya arsitektur yang menggunakan teknik ‘modern traditionalism’, sebuah teknik yang sebutannya terilhami dari buku Robert AM Stern berjudul Modern Classicism.
Adalah peran dan guna, dan tentu saja termasuk juga nilainya, juga telah mengalami perubahan dalam bangunan gerbang ini. Kalau aslinya candi itu bangunan yang disakralkan, kini bangunan gerbang yang bersosok candi itu telah menjadi bangunan yang sangat utilitarian. Kalau candi menjadi bangunan yang dihormati dan menjadi peziarahan, sekaligus tetenger; bangunan gerbang ini menjadi bangunan kewisataan yang tak lagi menuntut kunjungan yang penuh rasa hormat maupun ritual peziarahan. Ritual yang diperlukan sekarang ini hanyalah antre untuk masuk, menunjukkan tanda masuk dan selanjutnya dipersilakan menikmati taman wisata. Memang, bangunan gerbang ini juga masih dikatakan sebagai tetenger, tetapi adalah tetenger titik masuk ke dalam kawasan wisata. Ringkas kata, mengenai peran, guna dan nilai bangunan, gerbang ini sudah meninggalkan peran asal dari candi serta memunculkan peran, guna dan nilai baru.
Dari candi Jawa Timur menjadi bangunan gerbang, tentu saja perubahan telah terjadi. Tantangan bagi perubahan ini tentu saja adalah: bagaimanakah bangunan gerbang ini di satu sisi masih dapat dikenal sebagai candi, sedang di sisi lain bangunan ini diyakini sebagai bukan candi. Dalam kasus ini, rupa bangunan serta peran-guna-nilai menjadi willayah garap perancangannya. Dalam hal rupa bangunan, kerumitan rupa dari candi telah disahajakan menjadi gubahan geometri yang tidak lagi rumit, bahkan cenderung hadir menjadi geometri yang lugu. Pengubahan geometrikal ini dilakukan dengan menjadikan sosok candi (siluet candi) sebagai pengontrolnya. Pembubuhan warna dan dekorasi tambahan lainnya adalah sepenuhnya pengkayaan atas sosok bangunan gerbang yang kini harus tampil ceria (seturut statusnya sebagai bangunan wisata). Pembubuhan ini sekaligus untuk menegaskan bahwa bangunan gerbang yang mengingatkan kita pada candi Jawa Timur ini adalah bangunan masakini, bukan bangunan dari masakuno. Sebagai akibatnya, bangunan gerbang ini lalu adalah bangunan masakini yang “mengkuno”; dan boleh saja dikatakan sebagai bangunan kuno yang mengkini. Sementara itu, dalam hal peran-guna-nilai, bangunan gerbang ini telah sepenuhnya meninggalkan peran-guna-nilai yang melekat pada bangunan-bangunan candi masa silam. Tindakan meninggalkan ini dengan sengaja dilakukan karena kekunoan telah ditangani dalam penggubahan rupa. Jadi, kalau kekunoan ditangani dalam rupa bangunan, maka peran-guna-nilai tak perlu ikut dimuati dengan kekunoan. Sebaliknya, kalau peran-guna-nilai yang dimuati kekunoan, maka rupa bangunan dapat dan boleh digubah dengan meninggalkan kekunoan. Sesampai di sini, menjadi jelas bagaimana Arsitektur Nusantara menangani pengkinian yang Nusantara; dan itu berbeda dari bagaimana Arsitektur Tradisional menangani pengkinian yang tradisional. Gedung DPRD Jawa Timur adalah contoh yang dapat dimunculkan bagi penanganan Arsitektur Tradisional dalam mengkinikan yang tradisional.
[j.p.]
Tinggalkan Komentar Anda di Sini