Matinya Raksasa Tua Yang Masih Congkak

Media CetakBelakangan ini khalayak banyak membicarakan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar IT dunia.

Nokia yang begitu perkasa sebagai penguasa pasar gadget terpaksa harus gulung tikar dihantam kelahiran iphone.

Microsoft yang merajai pasar software juga nampak mulai kelimpungan terbukti mereka kini menggratiskan Windows 10, agar masyarakat masih tetap enjoy di depan desktop.

Berada di puncak terkadang sering menjadikan orang lupa diri, merasa besar dan takabur.

Dan kealpaan seperti itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan perumahan, real esate, broker properti dan media-media cetak yang mengiklankan produk rumah dan properti di negara ini.

Sampai hari ini, kebanyakan mereka masih terpaku pada paradigma lama dalam memasarkan produknya yaitu berkisar: iklan media cetak, pameran, banner, umbul-umbul di jalan, open house dan TIDAK berorientasi pada penyebaran informasi lewat media digital.

Beberapa pengembang atau perusahaan real estate saat tampak meluncurkan websitenya dalam INTERNET, akan tetapi usaha inipun terasa juga kurang berhasil karena banyak pemasar properti yang kurang memahami efektifitas sebuah website sebagai alat pemasaran.

Ini bisa dicek dari hasil pencarian mesin google dengan katakunci-katakunci paling populer menurut data analytic google sebagaimana gambar di bawah ini. Dengan katakunci- katakunci tersebut tidak satupun perusahaan pengembang perumahan dan realestat muncul di halama 1 Google SERP.

Google Analytics Keywords-060909

Yang tidak kalah konyol adalah perusahaan-perusahaan media cetak yang hidupnya juga sangat tergantung dengan iklan properti. Coba cek tarif iklan mereka, satu halaman penuh iklan bergambar harganya bisa menyamai sebuah mobil sedan baru.

Tentu saja iklan media cetak saat ini sedang menuju kematiannya mengingat hasilnya yang tidak sebanding dengan harganya. Sekali iklan paling banter hanya akan ada respon 10 orang pada hari itu dan besoknya iklan mereka telah masuk loakan dan jadi bungkus kacang.

Para pengembang real estate, broker properti, media cetak lebih menyadari kalau internet merupakan ancaman bagi usaha mereka, namun mereka memilih bersikap apriori dan memusuhi bukannya memanfaatkan berkembangnya teknologi dan mendapat manfaat dari teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih.

Saya ibaratkan perusahaan-perusahaan media itu sebagai raksasa yang sudah uzur namun tetap arogan. Mereka merasa besar namun tidak menyadari keterbelakangannya dalam memanfaatkan internet dan mesin pencari.

Kesalahan mereka adalah mereka merasa sebagai media berita besar sehingga merasa sebagai media promosi yang besar pula. Mereka tidak sadar bahwa berita /news merupakan kategori yang berbeda dengan properti yang tidak mungkin muncul bersama dalam satu halaman indeks google.

Tinggal tunggu waktunya, media-media besar itu pasti akan terjungkal pula sebelum mereka berhasil memiliki website properti yang handal untuk memberikan nilai lebih bagi pemasang iklan agar iklan para konsumen terus live sepanjang masa dengan sekali bayar sampai produk mereka benar-benar terjual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *