Kebijakan Dzalim Pemkab Sidoarjo

Tahun 1995 Pemkab Sidoarjo mempunyai program tata ruang Kota Baru. Ijin pengembangan Kawasan-kawasan strategis Sidoarjo dipegang oleh hanya 3 developer besar. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah:

  1. Dipastikan tidak akan ada rumah murah bagi masyarakat di Sidoarjo
  2. Developer perumahan kecil sudah pasti tidak akan mendapat tempat di Kabupaten Sidoarjo

Program menara gading ini akhirnya hancur berantakan dihantam badai krisis moneter tahun 1998. Jayaland, salah satu pemegang ijin lokasi kota baru terbukti kemudian mengembangkan ijinnya dengan perumahan murah sederhana seperti di desa; Sidokepung, Jumputrejo, Damarsi dan wilayah timur lainnya Sidoarjo.

Terbukti, hingga saat ini yang paling berperan mengembangakan tata ruang Kabupaten Sidoarjo adalah developer-developer perumahan kecil yang sekarang menjadi perusahaan besar.

Secara batiniah sebenarnya kita bisa melihat gagalnya program tataruang yang “muluk-muluk” itu sebagai bentuk ketidakridhoan Tuhan yang Maha Kuasa terhadap kebijakan penguasa yang jelas represif terhadap kehidupan sosial masyarakat bawah.
Continue reading

Kalimas Tempo Doeloe

Sejarah perumahan dan permukiman di Surabaya salah satunya dimulai dari tepian sungai yang menjadi sarana transportasi pada masa itu, yaitu Kali Surabaya dan Kali Mas. Permukiman penduduk juga banyak ditemui pada daerah pesisir utara dekat pelabuhan.

Pada jaman kolonial, pusat kegiatan juga ditempatkan di wilayah Surabaya bagian utara, yaitu sekitar kawasan Jembatan Merah, kawasan Jl Veteran dan kawasan Jl. Pahlawan (saat ini). Demikian pula dengan lokasi permukiman, berada tidak jauh dari pusat kegiatan tersebut, yaitu sekitar Jl. Diponegoro, Jl. Dr. Sutomo, Jl. Darmo, Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Pemuda, Jl. Genteng Kali, Jl. Wijaya Kusuma, dan sekitarnya.

Lambat laun seiring perkembangan Kota Surabaya menjadi kota dengan daya tarik kuat khususnya di bidang ekonomi, sosial budaya, dan politik maka lokasi permukiman mulai menyebar ke arah yang lebih luas, yaitu ke Surabaya Selatan, Timur dan Barat. Sejarah Kali Mas menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah keberadaan Kota Surabaya. Bukti sejarah mencatat dalam prasasti Trowulan I yang berangka tahun 1358 M bahwa Surabaya merupakan sebuah desa di tepian sungai yang berfungsi sebagai tempat penyeberangan.

(Handinoto,1996). Keberadaan Kali Mas yang merupakan anak sungai dari Kali Brantas juga menjadi pintu bagi lalu lintas sungai di masa lalu, di mana sejarah mencatat bahwa sungai ini dapat dilayari dari hilir (Surabaya) hingga ke hulu (Kediri, Mojokerto). Pelabuhan Rakyat Kali Mas keberadaannya menunjang perkembangan Kota Surabaya sebagai kota perdagangan sejak masa lalu. Pada jaman kolonial khususnya jaman Surabaya berada dalam kekuasaan VOC dan setelahnya dalam kekuasaan Pemerintah Belanda, saat itu peran Kali Mas sebagai urat nadi arus lalu lintas pelayaran memegang peranan strategis, sehingga kegiatan baik bisnis dan pemerintahan dipusatkan keberadaannya di sekitar Kalimas, khususnya daerah sekitar Jembatan Merah. Saat ini di wilayah sekitar Jembatan Merah dapat disaksikan gedung-gedung tua peninggalan jaman Belanda tersebut. Suasana Kali Mas masa lalu di sekitar Jembatan Merah.
Berdasarkan tulisan von Faber (dalam Handinoto, 1996) terlihat bahwa peran sungai yang melewati Kota Surabaya (dalam hal ini Kalimas) mempunyai peran penting dalam penciptaan jaringan jalan Kota Surabaya di masa lalu. Pola jaringan jalan utama Kota Surabaya selalu mengikuti pola aliran Kali Surabaya / Kali Mas dan cabangnya. Hal ini disebabkan konsentrasi penduduk Kota Surabaya memang berada di tepian kedua sungai tersebut.

Akibat pola jalan yang memanjang mengikuti aliran sungai dari Selatan menuju ke Utara serta penduduk yang terkonsentrasi di kedua tepian sungai, maka konsekuensinya adalah banyak ditemukan jembatan, yang menghubungkan penduduk di kedua tepian sungai, misalnya jembatan Patok, Peneleh, Bibis, kalianyar, Jagalan, Genteng (van Deventerlaan) dan Cantikan. Pada tahun 1950an jumlah jembatan bertambah ke arah selatan, misalnya Jembatan Gubeng, Wonokromo, Sonokembang, dll. Berdasarkan peta penggunaan lahan tahun 1825, pusat Kota Surabaya masih terletak di daerah Jembatan Merah tepatnya sebelah Barat Jembatan Merah berikut pemukiman orang Eropa (Handinoto, 1996). Penduduk etnis Cina, Arab dan Melayu berdiam di sebelah timur Jembatan Merah. Sedangkan penduduk asli Surabaya menyebar sepanjang Kalimas di sebelah Selatan kota.

Pada jaman dahulu (sekitar abad 18), berdasarkan von Faber (dalam Handinota, 1996), Kalimas menjadi sumber kehidupan baik sebagai bahan baku air untuk persawahan juga sebagai bahan baku air bersih. Proses pengolahan air Kalimas menjadi air bersih melalui penjernihan dengan overmangaanzure (KMnO4 ?) dan tawas (alum). Selanjutnya direbus dan disaring. Jika terjadi epidemi kolera, maka dianjurkan agar air yang telah dimasak sekalipun ditambah dengan zoutzuur. Selain sebagai sumber air, Kalimas juga menjadi penampung air untuk pematusan dan pembuangan limbah. Bahkan kondisi kesulitan mengendalikan banjir juga dialami Kota Surabaya sejak jaman dulu. Sekitar tahun 1800an daerah sekitar Simpang sering terganggu banjir luapan Kalimas di musim hujan. Untuk mengatasi banjir, maka Pemerintah Belanda membangun kanal-kanal, misalnya tahun 1856 dibangun banjir kanal menuju Selat Madura dan bendungan air di Jagir. Selain itu dalam upaya untuk melestarikan sungai, bangunan air lain yang dibangun di Kalimas agar tetap dapat dilayari sampai Kali Surabaya adalah pembangunan pintu air di Gubeng dan Gunungsari antara tahun 1889 sampai 1899. (*)
Sumber: http://www.gapura.info/liput.php

Atasi Kemacetan Surabaya dengan Membuka Frontage Road

Frontage road sisi timur atasi kemacetan di Jalan Ahmad Yani

frontageroad-a-yani_1444Sebantar lagi kemacetan Jalan Ahmad Yani akan berkurang. Dikarenakan frontage road sisi timur Jalan Ahmad Yani dari RSAL dr Ramelan – Giant (Jl. Margorejo) akan segera dibuka. Menurut rencana, jalan tepi ini akan mulai dioperasikan pertengahan Februari 2010.

Frontage road tahap pertama (RSAL – Margorejo) sudah siap untuk dioperasikan. Jalan sepanjang 800 meter tersebut sudah beraspal. Beberapa kendaraan keluar dari RSAL sudah mulai lalu lalang. Untuk membuka frontage road ini perlu ada rekayasa lalu lintas.

Kendala dalam pembangunan frontage road ini pada pembebasan lahan yang hendak dijadikan jalan. Kalau dirinci, Pertama lahan RSAL. Luasnya mencapai 903 m2. Kedua adalah SDN Margorejo I, yang luasnya mencapai 486 m2. Sedangkan yang terakhir, tentu saja adalah tanah milik warga. Luasnya mencapai 3.870 m2. Pemkot harus merogoh kocek dalam untuk pembebasan lahan tersebut. Apalagi tanah tersebut harganya jauh melampaui Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang ditetapkan pemkot. NJOP pemkot adalah Rp 1,5 juta per meter persegi.

Sedangkan asumsi dasar appraisal adalah Rp 3,3 juta per meter persegi. Secara keseluruhan, pemkot menyediakan dana sampai Rp 19,8 miliar untuk pembebasan lahan tersebut. Dana tersebut diambilkan dari APBD tahun 2009. Pembebasan tersebut sudah termasuk tanah untuk frontage antara Giant/Margorejo sampai Jemur Andayani. Antara lain tanah milik Jatim Expo yang luasnya mencapai 3.372 m2. Sedangkan tanah milik warga luasnya sampai 7.419,87 m2.

Pemkot terakhir kali melakukan pembebasan lahan pada 2009 lalu. Jatim Expo sudah beres. Sedangkan tanah warga masih menyisakan sekitar 1.156 m2 untuk pembebasan lahannya. Karena kebutuhan anggaran semakin meningkat, Pemkot melakukan perubahan anggaran keuangan (PAK) untuk APBD 2009. Jumlahnya mencapai Rp 25 miliar. Tidak berhenti sampai di sana, pemkot juga menganggarkan dana sampai Rp 36 miliar untuk pembebasan lahan. Dana itu diambilkan dari APBD 2010.

Bedanya, objek pembebasan lahannya saat ini semakin luas. Selain tanah dari Giant sampai Jemur Andayani, tahun ini pemkot akan juga melakukan pembebasan tanah dari Jemur Andayani sampai Korem 034 Bhaskara Jaya (depan bundaran Waru). Diperlukan beberapa instrumen penunjang dalam menyokong pembanguan frontage road tersebut.
Yang paling utama saat ini adalah penyediaan sarana penerangan jalan umum (PJU). Total PJU yang disediakan mencapai 15 titik. Demi kelancaran lalu lintas setelah frontage dibuka, Dinas Perhubungan akan melakukan rekayasa lalu lintas ke arah frontage. Kepala Dinas Perhubungan, Eddi menjelaskan pada Gapura bahwa sehubungan akan dibukanya frontage sisi timur Jalan Ahmad Yani, Dishub Surabaya sudah berkoordinasi dengan Dishub Jawa Timur mengenai rekayasa lalu lintas ke arah masuk frontage.

“Nantinya, frontage ini dikhususkan bagi Mobil Kendaraan Umum (MPU). Kendaraan pribadi yang akan putar balik ke arah Royal Plaza bisa lewat frontage road masuknya ke arah RSAL melewati rel, lalu pertigaan Margorejo bisa belok kanan. Kendaraan yang akan menuju Margorejo sebaiknya juga lewat frontage saja, karena belok kiri pertigaan Margorejo nanti tidak diperbolehkan,” jelas Eddi kepada Gapura.

Ditanya mengenai pembangunan frontage sisi barat, Eddi mengatakan pembangunan di sisi barat seharusnya relatif mudah, karena banyak tanah di sisi barat milik instansi Pemerintah. “Pembebasan tanah di sisi barat relatif mudah, tapi itu semua tergantung instansi yang bersangkutan mau tidak tanahnya dipakai untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya. (rz)

Sumber: http://www.gapura.info/progkot.php

Suramadu, Ikon Baru Surabaya dan Jawa Timur ?

view-suramadu-1

Artikel ini saya susun demi menandai mulai beroperasinya Jembatan Suramadu yang menghubungkan secara fisik kota Surabaya dan Pulau Madura. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 10 Juni 2009 oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI. Sengaja saya menulis posting ini agak terlambat, kurang lebih satu bulan setelah diresmikan, agar saya benar-benar bisa merasakan kondisi/keberadaan jembatan ini dan mempunyai cukup ide yang bagus untuk menghasilkan tulisan yang berbobot. Juga, judul dari artikel ini sengaja saya beri tanda tanya karena beberapa pengertian mendasar tentang kata ikon masih perlu pembuktian.

Pengertian Ikon

Kata ikon secara formal akademis diartikan sebagai monumen kota atau public landmark. Pierre von Meiss, seorang professor Arsitektur asal Swedia dalam bukunya berjudul ELEMENTS OF ARCHITECTURE memaparkan konsepnya bahwa, “deretan bangunan (building fabric) memberikan gambaran akan kontinyuitas, perluasan dari unsur kesamaan, kemiripan, pengulangan dan orientasi umum dari elemen kota yang bersifat homogen. Sedangkan “object adalah elemen perkecualian yang terbatas (unik) dan menarik secara kuat perhatian visual masyarakat. Suatu monumen atau public landmark bagi suatu masyarakat biasanya bersifat sakral, agung, tinggi besar (monumental) serta memiliki makna yang mendalam bagi “kehidupan bersama” masyarakat (Collective Life).

Pada awal berdirinya, Tunjungan Plaza Surabaya pernah menjadi ikon masyarakat Surabaya dan Jawa Timur karena strukturnya yang besar menonjol mengalahkan lingkungan sekitarnya serta fungsinya sebagai satu-satunya public place yang sangat bermakna bagi masyarakat pada saat itu. Seiring perkembangan jaman, dengan banyak berdirinya plasa dan mall di lokasi lain dalam kota Surabaya maka Tunjungan Plasa telah kehilangan nilai keunikannya.

Ikon-Ikon Dunia

Banyak kota di dunia ini memiliki ikon yang menandai keunikannya meskipun tidak kita ketahui apa maknanya. Kota Paris, pasti kita kenal dengan Menara Eiffel. Kota Washington DC terkenal dengan Patung Liberty. Kota Sydney identik dengan Opera House-nya. Lalu, apakah ikon kota Surabaya yang memberikan nilai khas pada kota ini ?.

Sebelum ini kota Surabaya terkenal sebagai kota Pahlawan dengan ikonnya Tugu Pahlawan. Namun, saat ini masih patutkah Tugu Pahlawan itu menjadi ikon Surabaya yang berlevel internasional ?

Secara fisik tugu Pahlawan kini tidak bisa disebut menonjol lagi karena terhimpit dan tertutupi oleh bangunan lain yang jauh lebih besar besar, seperti; hotel, mall dan apartemen. Dari segi maknanya yang terkandung pada fisik bangunan tugu itu bagi kehidupan bersama masyarakat Surabaya apakah kita masih memahaminya ? Apakah generasi kita sekarang masih memahami makna sakrala dari Tugu Pahlawan sebagai salah satu pertanda perjuangan warga kota Surabaya bagi kemerdekaan bangsa dan negara dari penjajah? Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

jembatan-suramadu-pilar-1

Jembatan Suramadu, satu karya agung manusia yang monumental dan punya makna yang mendalam bagi kehidupan bersama (collective life) masyarakat Surabaya, Madura dan Jawa Timur

jembatan-suramadu-pilar-2

Struktur pilar Jembatan Suramadu yang besar, kuat dan unik telah menjadi pusat perhatian masyarakat Surabaya, Madura dan Jawa Timur

Saat ini jelas bahwa kehadiran Jembatan Suramadu telah menjadi identitas baru kota Surabaya. Secara fisik Suramadu secara kuat telah menarik perhatian seluruh masyarakat Surabaya dan Jawa Timur secara umum. Suramadu sebagai jembatan terpanjang dan terbesar di Asia Tenggara, kebesaran dan keunikan jembatan ini sulit ditandingi oleh struktur buatan manusia apapun, untuk jangka waktu yang belum bisa dipastikan.

Namun, untuk menjadikan Suramadu sebagai monumen atau Public Landmark obyek ini harus bisa memberikan makna bagi kehidupan bersama masyarakat Surabaya, Madura dan Jawa Timur pada umummnya. Apabila keberadaan jembatan ini tidak dapat memberikan perubahan harkat dan martabat masyarakat serta mengangkat kehidupan masyarakat secara signifikan, maka fungsinya tidak lebih dari sebuah jembatan penghubung yang merupakan pengganti angkutan kapal Feri dari Ujung ke Kamal. Sebab, hasil pembangunan bukanlah yang kita “lihat” namun apa yang kita bisa “rasakan“.

view-madura-1

Pemandangan pantai Pulau Madura dari tengah Jembatan Suramadu. Surabaya dan Madura telah menyatu tak ada lagi jarak.