Matinya Raksasa Tua Yang Masih Congkak

Media CetakBelakangan ini khalayak banyak membicarakan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar IT dunia.

Nokia yang begitu perkasa sebagai penguasa pasar gadget terpaksa harus gulung tikar dihantam kelahiran iphone.

Microsoft yang merajai pasar software juga nampak mulai kelimpungan terbukti mereka kini menggratiskan Windows 10, agar masyarakat masih tetap enjoy di depan desktop.

Berada di puncak terkadang sering menjadikan orang lupa diri, merasa besar dan takabur.

Dan kealpaan seperti itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan perumahan, real esate, broker properti dan media-media cetak yang mengiklankan produk rumah dan properti di negara ini.

Sampai hari ini, kebanyakan mereka masih terpaku pada paradigma lama dalam memasarkan produknya yaitu berkisar: iklan media cetak, pameran, banner, umbul-umbul di jalan, open house dan TIDAK berorientasi pada penyebaran informasi lewat media digital.
Continue reading

Kebijakan Dzalim Pemkab Sidoarjo

Tahun 1995 Pemkab Sidoarjo mempunyai program tata ruang Kota Baru. Ijin pengembangan Kawasan-kawasan strategis Sidoarjo dipegang oleh hanya 3 developer besar. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah:

  1. Dipastikan tidak akan ada rumah murah bagi masyarakat di Sidoarjo
  2. Developer perumahan kecil sudah pasti tidak akan mendapat tempat di Kabupaten Sidoarjo

Program menara gading ini akhirnya hancur berantakan dihantam badai krisis moneter tahun 1998. Jayaland, salah satu pemegang ijin lokasi kota baru terbukti kemudian mengembangkan ijinnya dengan perumahan murah sederhana seperti di desa; Sidokepung, Jumputrejo, Damarsi dan wilayah timur lainnya Sidoarjo.

Terbukti, hingga saat ini yang paling berperan mengembangakan tata ruang Kabupaten Sidoarjo adalah developer-developer perumahan kecil yang sekarang menjadi perusahaan besar.

Secara batiniah sebenarnya kita bisa melihat gagalnya program tataruang yang “muluk-muluk” itu sebagai bentuk ketidakridhoan Tuhan yang Maha Kuasa terhadap kebijakan penguasa yang jelas represif terhadap kehidupan sosial masyarakat bawah.
Continue reading

Pengembang Resah Tunggu Putusan Gugatan Rumah Tipe 36

perumahan-tipe-36JAKARTA, KOMPAS.com – Pengembang yang tergabung dalam Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) resah karena gugatan pasal 22 ayat 3 Undang-undang nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman ( UU PKP) belum ada putusan hukumnya. Gugatan tentang pembatasan luas rumah di bawah ukuran 36 meter persegi ini telah berlangsung di Mahkamah Konsitusi sejak awal Februari 2012 lalu.

“Kami belum juga mendapat kabar kapan sidang putusan gugatan ini. Karena tak juga keluar, kasihan masyrakat tersandera oleh lamanya putusan MK ini,” kata Ketua Umum DPP Apersi, Eddy Ganefo, ketika dihubungi Kompas.com, di Jakarta, Senin (25/6/2012) petang.

Menurut Eddy, pihaknya sebagai penggugat maupun Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) terkatung-katung karena putusan MK tak kunjung dikeluarkan. Continue reading

Kemenpera Targetkan Bangun 196 Rumah Susun

rusun-kemenperaJAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan pembangunan rumah susun sebanyak 196 tower rumah susun (rusun) pada 2012. Pembanguan rumah susun ini untuk memenuhi program 1.000 Tower yang dicanangkan pada 2005 lalu.

Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung mengatakan, rusun yang akan dibangun Kemenpera tersebut nantinya ditujukan untuk anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), pekerja, PNS, mahasiswa serta pondok pesantren. Rusun itu dibangun menyebar di 182 lokasi di seluruh Indonesia.
Continue reading