Matinya Raksasa Tua Yang Masih Congkak

Media CetakBelakangan ini khalayak banyak membicarakan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar IT dunia.

Nokia yang begitu perkasa sebagai penguasa pasar gadget terpaksa harus gulung tikar dihantam kelahiran iphone.

Microsoft yang merajai pasar software juga nampak mulai kelimpungan terbukti mereka kini menggratiskan Windows 10, agar masyarakat masih tetap enjoy di depan desktop.

Berada di puncak terkadang sering menjadikan orang lupa diri, merasa besar dan takabur.

Dan kealpaan seperti itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan perumahan, real esate, broker properti dan media-media cetak yang mengiklankan produk rumah dan properti di negara ini.

Sampai hari ini, kebanyakan mereka masih terpaku pada paradigma lama dalam memasarkan produknya yaitu berkisar: iklan media cetak, pameran, banner, umbul-umbul di jalan, open house dan TIDAK berorientasi pada penyebaran informasi lewat media digital.
Continue reading

Pantai Kondang Merak Perjalanan Empat Jam Setengah Dari Surabaya

Pantai Kondang Merak merupakan obyek wisata di Jawa Timur yang lagi naik daun. Lokasinya 4,5 jam perjalanan dari kota Surabaya atau hanya 60 km dari alun-alun kota Malang.

Pantai Kondang Merak dari Surabaya paling tepat dimulai pukul 2 malam. Setelah istirahat sebentar di alun-alun Malang dan sholat subuh di Masjid Jamik langsung melanjutkan perjalanan. Maka kita bisa sampai di lokasi antara pukul 6 sampai 7 pagi.

Secara administrasi Pantai Kondang Merak terletak di dua desa, desa Sumberbening dan desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur Kabupaten Malang Jawa Timur.

Pantai Kondang Merak hingga saat ini praktis masih belum tersentuh pembagunan baik oleh pemerintah maupun investor swasta. Karena itu keaslian alamnya dan lingkungan menjadi daya tarik utama Pantai di pesisir Laut selatan, Samudra Indonesia ini.
Continue reading

Kebijakan Dzalim Pemkab Sidoarjo

Tahun 1995 Pemkab Sidoarjo mempunyai program tata ruang Kota Baru. Ijin pengembangan Kawasan-kawasan strategis Sidoarjo dipegang oleh hanya 3 developer besar. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah:

  1. Dipastikan tidak akan ada rumah murah bagi masyarakat di Sidoarjo
  2. Developer perumahan kecil sudah pasti tidak akan mendapat tempat di Kabupaten Sidoarjo

Program menara gading ini akhirnya hancur berantakan dihantam badai krisis moneter tahun 1998. Jayaland, salah satu pemegang ijin lokasi kota baru terbukti kemudian mengembangkan ijinnya dengan perumahan murah sederhana seperti di desa; Sidokepung, Jumputrejo, Damarsi dan wilayah timur lainnya Sidoarjo.

Terbukti, hingga saat ini yang paling berperan mengembangakan tata ruang Kabupaten Sidoarjo adalah developer-developer perumahan kecil yang sekarang menjadi perusahaan besar.

Secara batiniah sebenarnya kita bisa melihat gagalnya program tataruang yang “muluk-muluk” itu sebagai bentuk ketidakridhoan Tuhan yang Maha Kuasa terhadap kebijakan penguasa yang jelas represif terhadap kehidupan sosial masyarakat bawah.
Continue reading

Kemenpera Targetkan Bangun 196 Rumah Susun

rusun-kemenperaJAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan pembangunan rumah susun sebanyak 196 tower rumah susun (rusun) pada 2012. Pembanguan rumah susun ini untuk memenuhi program 1.000 Tower yang dicanangkan pada 2005 lalu.

Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Pangihutan Marpaung mengatakan, rusun yang akan dibangun Kemenpera tersebut nantinya ditujukan untuk anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), pekerja, PNS, mahasiswa serta pondok pesantren. Rusun itu dibangun menyebar di 182 lokasi di seluruh Indonesia.
Continue reading

Harga Naik, Penjualan Rumah ‘Rontok’

Suhendra – detikfinance

tipe30-wiratha-indraprasta-villageJakarta – Bank Indonesia (BI) dalam surveinya mencatat terjadi penurunan penjualan rumah di awal tahun khususnya triwulan I-2012. Padahal penjualan rumah selama lima triwulan berturut-turut selalu mengalami kenaikan.

“Hasil survei menunjukan terjadi penurunan penjualan secara triwulan pada semua tipe rumah terutama rumah tipe kecil. Tidak terjualnya beberapa unit hunian di bawah tipe 36 terkait UU No 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan pemukiman diduga berimbas pada penurunan penjualan rumah tipe kecil,” jelas survei BI tersebut seperti dikutip Minggu (20/5/2012).

Penjualan rumah yang paling rendah terjadi di Makassar khususnya jenis rumah tipe kecil. Sementara penjualan yang terbesar masih di Jabodetabek khususnya untuk penjualan rumah kecil.

“Sebagian besar responden menyatakan bahwa dibandingkan dengan triwulan sebelumnya permintaan dan penawaran properti residensial di 14 kota cenderung tetap. Sama halnya dengan triwulan I-2012, pada triwulan II-2012 responden memperkirakan kondisi permintaan dan penawaran rumah cenderung tetap untuk semua tipe rumah,” katanya.

BI juga mencatat kenaikan harga rumah secara triwulanan (qtoq), selama periode triwulan I-2012 untuk semua tipe rumah. Kenaikan harga rumah tertinggi terjadi pada rumah tipe besar 0,90% (qtoq). Wilayah Padang mengalami kenaikan harga paling tinggi sebesar 2,17%, rumah tipe besar di wilayah ini naik 3,09%.

“Peningkatan harga yang cukup tinggi juga terjadi di wilayah Palembang, dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe besar 3,31%.

Sementara itu untuk periode tahunan (yoy) harga rumah untuk semua tipe naik namun melambat dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tertinggi terjadi pada tipe kecil 4,42%.

“Kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Medan 6,39%, terutama untuk tipe besar 7,72%. Kenaikan harga juga terjadi di wilayah Makassar 6,4%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 6,04% dengan peningkatan paling tinggi terjadi pada rumah tipe menengah 9,12%,” jelas survei itu.

Survei harga properti residensial merupakan survei tiga bulanan yang dilaksanakan sejak triwulan I-1999 oleh BI. Dilakukan terhadap sampel kalangan pengembang properti di 12 kota yaitu Medan, Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Wilayah Jabodetabek mulai disurvei pada triwulan I-2002, dan pada triwulan I-2004 ditambah kota Pontianak sehingga menjadi 14 kota. Total responden yang disurvei mencakup 45 pengembang utama di Jabodetabek dan Banten dan sekitar 215 pengembang di 13 kantor Bank Indonesia.

Istilah rumah kecil dalam survei ini merujuk pada rumah dengan tipe di bawah 36 m2, sedangkan rumah tipe menengah dalam rentang 36-70 m2 dan rumah tipe besar , dengan ukuran di atas 70 m2.

(hen/wep)

Sumber: http://finance.detik.com